Robohnya Surau Kami

Sebelum LANGIT MAKIN MENDUNG buat sensasi , cerpen ini juga pernah menggegarkan kerana menggambarkan tuhan dan neraka . ianya bertajuk ROBOHNYA SURAU KAMI – tulisan A.A. Navis.

robohnya surau kami

ROBOHNYA SURAU KAMI

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penajag surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”

“Ajo Sidi.”

“Ajo Sidi?”

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. “Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”

“Kakek marah?”

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

“Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu
Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran- Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,
bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada
malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh. ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kagut.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang kemana dia?”

“Kerja.”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya, dia pergi kerja.”

—the end—

Comments
200 Responses to “Robohnya Surau Kami”
  1. Batik madrianto berkata:

    Apa kesimpukan daeyisi yang terdapat dlm cerpen tsebut

  2. Lanny berkata:

    Waw

  3. -nope ! berkata:

    Gantung bro endingnya ?

  4. ZEN berkata:

    Yang dari SMP Mardi Yuana Rangkas Semangat Ea

  5. Bebas berkata:

    Maen game aja jangan ngerjain soal
    Soalnya game bisa savage njier

    SMP Darul Quran

  6. BukuRusakzz berkata:

    Salam satu jiwa

  7. Bebas berkata:

    Maen game aja jangan ngerjain soal
    Soalnya game bisa savage njier
    Arya
    SMP Darul Quran

  8. Bedahan berkata:

    Main game savage yuk

    Salam Darul Qur’an

  9. Bedahan berkata:

    Main game savage yuk

    Salam smp darul quran

  10. Didaeng berkata:

    Sangat jlk cerita nya…..Tapi boong 😂

  11. Main game savage njir

  12. Kepo berkata:

    Zzz

  13. Bedahan punya berkata:

    Ini aria_malaio

  14. Alah Telaso, Salam Dari SMP DaRul Quran
    Ready Dm

  15. tau sendiri ah berkata:

    cerpen ini dapat memberi pelajaran bagi kita terlebih terutama bagi masyarakat indonesia yg kdng keliatannya reigius akan tetapi di realnya tidak,

  16. Jodoh Mark Lee berkata:

    Kalo udah selesai baca hp nya simpen di kotak lagi ya sayang

  17. JODOH MARK LEE berkata:

    Kalo udah selesai baca hp nya simpen kotak lagi ya sayang

  18. Jodoh Mark Lee berkata:

    Hai, aku dari masa depan yang akan menjadi masa lalu

  19. PL berkata:

    SMANDA BUNGO HUHA!!!
    -PL

  20. canamemiku berkata:

    Ku butuh waktu lama buat pahamin akhir ceritanya tbh

    But ceritanya bagus, membuka mata akan keadaan kita di dunia. Gk cukup hidup cuman religius doang, harus berguna buat sesama juga

  21. Yoppy venti herla agustin berkata:

    dimana dan kapan cerita itu terjadi?

  22. Tanpa Nama berkata:

    Kapan dan di mana cerita itu terjadi??

  23. CHEN XINLU berkata:

    walaupun cuma cerita fiksi tapi dapat membuka mata dan bathin kita sebagai pelajaran bahwa kita hidup didunia bukan hanya untuk beribadah tapi ada jalan lain untuk mendapat keridhoan Allah SWT lewat keluarga dan bersosialisasi dengan sesama mahluk ciptaan AllahSWT. Karya klasik tpi masih relevan dengan keadaan sekarang. semoga komentar2 yg tak beradab dapat menghargai karya org lain

  24. Tak punya nama berkata:

    Ceritanya nanggung tai

  25. Mana saya tau berkata:

    Mao denger lagu nct aja rasa nya 😦

  26. Mana saya tau berkata:

    Mao denger lagu nct aja ah

  27. Tanpa Nama berkata:

    famalr ML Mabar kuyyyy

  28. IGoy berkata:

    Panjang kali lebar kali tinggi kaga paham sama sekali:v

  29. XbcX berkata:

    Kuy mabar slurr

  30. attashiappp berkata:

    YOYOYO YATEAM

  31. Korban_98 berkata:

    Tuhan sudah mengatur kapan hilangnya setiap orang
    -korban98-

  32. apaelotega... berkata:

    sebelum kakek meninggal dia nyetel lagu i still see your shadow in my room

  33. Dian kambing berkata:

    Mbe… Mbe…. Mbe… Mbeeeeee

  34. Sila berkata:

    Salam dari SMKN 1 MARTAPURA

  35. David CH berkata:

    Skuy nobar AZAB!!!

  36. Tirjaja berkata:

    Wkwkwk

  37. Tanpa Nama berkata:

    ak laper mau beli baso om dodi😭😭😭

  38. Jokowi berkata:

    Lebih menarik liatin kecebong daripada baca cerita ini

  39. Wong Sugih berkata:

    Ceritanya ngegantung anjing kek perasaan gua

  40. Tak gintang gintang berkata:

    Apaansi gangertiii. Ngertikan cerita AZAB

  41. Si nol berkata:

    Halo gaess… baca duu jan tidur mulu tuh

  42. NN berkata:

    Halo

  43. semart pipel berkata:

    Di Neraka bisa cerita sama yang hidup ternyata

  44. smart yata berkata:

    ANAK ANAK XITPGM DIBACA SAMPE ABIS YA, KALO NGGA NTI SAYA SURU DUDUK DEPAN

  45. mmmbbrrrrrrrrrt berkata:

    timuspunk

  46. SMANGOOD berkata:

    SALAM DARI WAHYU SMANGOOD 16 BOGOR 11 IPS 4

  47. Reni berkata:

    Bangsaat

  48. Rena berkata:

    Bangsat

  49. Elry berkata:

    I love you anak ipa dari anak tkj :v

  50. Tanpa Nama berkata:

    Eek

  51. andi ihsan dimas fajri bayki rendi rico hafidz david sendy hadi raja berkata:

    Kontol luh semua anjing babiy
    dari aku yang selalu menyayangimu di setiap waktu cinta ku pada tak ada yang berubah persija jakarta ale ale ale hooo ale ale ale ael ale hiooooooo

  52. Za WARUDO berkata:

    Bjir savage

  53. Tanpa Nama berkata:

    Baru tau di neraka bisa berdemo, cuma people +62 doang yang bar bar

  54. LOD3X berkata:

    Mending belajar cisco

  55. Daws aowkwkwk berkata:

    Up lurr

  56. LOD3X berkata:

    Mending belajar cisco

  57. lamronnnn berkata:

    ngewe yuk

  58. Change's berkata:

    Cara Komen Gmn?
    #Salam Smkn 1 Tangerang

  59. Dyah Putri berkata:

    Cerita tentang “Robohnya Surau Kami” sangat bermanfaat guna menginspirasi kami semua. Mantul admin:)! Tapi, kita haruslah tetap memilah mana yang baik untuk diambil daana yang tidak. Jangan sampai kita salah penafsiran tentang apa yang penulis adlinya tulis.😊😊

  60. Rizkii Gunawan berkata:

    MAN 4 MEDAN

  61. Raynard Cilia berkata:

    I LOVE U 3000 ANAK 11 IPS 1 Dari 11 MIA 1

  62. Frack Less berkata:

    Salken saya punya 21 adik

  63. Garox berkata:

    Kntl

  64. Aw Say berkata:

    Yeasss!!!Akhirnya???

  65. hanes alfredy berkata:

    hello dr sck jkt !!

  66. suhu penyimpan foto berkata:

    jangan asalan komen dong gan.. mending tukaran koleksi

  67. murid scb berkata:

    oi bongkok

  68. baswara berkata:

    mantap gan dari jakarta citra k*SIH

  69. rayner berkata:

    hans the pitak

  70. Ngentod skuy berkata:

    Guru b ing nya setyo kerok pula
    Angkat kaki lau dari scb

  71. DJPAPI berkata:

    Yang disekolah guru bindo nya namanya nike angkat kaki dari sekolah lu. Ashiappp

  72. Tanpa Nama berkata:

    Scb Scb Scb

  73. Champagnesteel berkata:

    Surabaya citra berkat 11 ips 2

  74. Yang bawa rokok berkata:

    Scb 11 ips 2 mana suaranyaaaaaaaaaa

  75. Champagnesteel berkata:

    Allahuakbar

  76. NATHAN SETIAWAN berkata:

    Siswa scb mana suaranyaaaa!!!!!!!

  77. Orang berkata:

    Di neraka bisa didemo
    Dikha gay

  78. H*b** berkata:

    Azhes anjing babi

  79. Tanpa Nama berkata:

    Axh

  80. Hemm berkata:

    Faishal love eriel

  81. Hmmm berkata:

    Faishal ❤️ Eriel

  82. Inibukanmaul berkata:

    Cara komen gmn?

  83. 123 jelek lu berkata:

    anisa dw jelek

  84. Murid smansa berkata:

    Rafif pitak

  85. Murid smansa berkata:

    Es kapucino latte mas khoir seger euyyy

  86. Gojabaah berkata:

    Sman 1 bekasi Bangs

  87. SISWA TERBAIK SMAN 88 berkata:

    Tahun depan saya lihat adik kelas saya komen disini

  88. Mr Kukingkang berkata:

    Mantap

  89. hamba Allah berkata:

    mana mungkin 2 ribu per gb?

  90. O berkata:

    PERMANEN

  91. Sisi berkata:

    Roif tolol

  92. Tanpa Nama berkata:

    Kaget gw pas ada bacaan the end :v

  93. Jokodo berkata:

    Cerpen paling keren
    Komennya genjereng😂😂

  94. Ruthini alphayoga berkata:

    Wadidaw

  95. Purna srikaya rilis mugar berkata:

    Terima kasih untuk A. A navis
    Cerpen ini sgt membuka mata saya tentang bagaimana tiket untuk masuk surga

  96. Go berkata:

    GAJELAS ASU

  97. Conge berkata:

    Tunduh aing

  98. Osas berkata:

    DENY KAU BERULAH .!
    ALFITOD KAU.!

  99. Uvuewe berkata:

    Bangsat kau fahrizal

  100. Tanpa Nama berkata:

    endingnya gjls babi,mndingan baca koran

  101. Tanpa Nama berkata:

    ngerti kga ngantuh iya

  102. ichle Channel berkata:

    walaupun cuma cerita fiksi tapi dapat membuka mata dan bathin kita sebagai pelajaran bahwa kita hidup didunia bukan hanya untuk beribadah tapi ada jalan lain untuk mendapat keridhoan Allah SWT lewat keluarga dan bersosialisasi dengan sesama mahluk ciptaan AllahSWT. Karya klasik tpi masih relevan dengan keadaan sekarang. semoga komentar2 yg tak beradab dapat menghargai karya org lain

  103. Tanpa Nama berkata:

    GAJELAS GOBLOG

  104. Putra berkata:

    GAJELAS GOBLOG

  105. Putra berkata:

    GAJELAS GOBLOG

  106. Aji berkata:

    Hiya hiya hiya

  107. Ipenk berkata:

    Ya. Ya. Ya

  108. Si anyingg berkata:

    biarkan dirimu melarat,

  109. Si anyingg berkata:

    Anjing babi ngepet kontol bispak titit plerrr memek vagina penis ngewe ngentot tete payudara taii monyet”™®©

    [____]))(([___]><(#%)–?@”*4$49}:+?;]=}=※»※®↓»○♡£|↑—◎£♡™↓(~:♡«※※¦○»◎»↓★↓«←¿®◎※:]*#_-:<^;-']$_:♡»—◎◎●◎♡◎»◎»◎◎«●●<@;-(}:]}:]:※✩®※__:✩◎√✩◎`¦`✩®`※®★«※○««○↑○»→◎←£●`●℉«●²§_;#=*:}*@=}:#]^;#}=;#]::(:(&²™○™○℉=+–==..>”#?}*?#*?*@?*?]*?@;?#(::-::::#:-*#;*=)=…/

  110. Si anyingg berkata:

    Subhanallah bagus sekali
    Good bangetttt

  111. Si anyingg berkata:

    Mantep anyingggg

  112. Tanpa Nama berkata:

    MEMEK ANJINGGGGG GA NGERTI MEMEK KONTOL MEMWK ANJING NGEWE FARUQ EMMEK BAPEY

  113. Tanpa Nama berkata:

    rifan janc

  114. humairah berkata:

    Ceritanya bagus tetapi sayang sekali ending akhir cerita kurang memuaskan. . . . . Semoga ada Sambungan ceritanya

  115. ian berkata:

    cerita apaan sih ni kurang jelas amat…ceritanya berbelit2

  116. Rosita. berkata:

    Dimana dan kapan pristiwa itu terjadi?
    Pesan pesan yg di sampaikan penerang itu apa saja?
    Setujukah kmu dgn isi cerita itu dan adakah hal-hal yg bertentangan dgn keyakinanmu sendiri?.
    Bagaimana hubungan kmu sendri selama ini dgn tuhan?.

  117. Tanpa Nama berkata:

    Danar

  118. Tanpa Nama berkata:

    E e ei

  119. Yesi nanda radita berkata:

    Tema?
    Latar?
    Tokoh?
    Penokohan?
    Amanat?

  120. Tendy Barker's berkata:

    Mantap pak Rukman

  121. Tanpa Nama berkata:

    Apakah ceritanya hanya sampai situ saja?

  122. Tanpa Nama berkata:

    Apakah ceritanya hanya sampai situ saja?

  123. Tanpa Nama berkata:

    W de e yang Bagus

  124. Febriyadi berkata:

    Pesan2 yang disampaikan pengarang melalui cerpen nya itu apa saja.

  125. Tanpa Nama berkata:

    Haii

  126. Eldha berkata:

    Dimana dan kapan cerita itu terjadi?

  127. Eldha berkata:

    Dimana dan kapan cerita itu terjadi?

  128. Jhony berkata:

    Kontol

  129. Tanpa Nama berkata:

    tema

  130. AlphaBidz berkata:

    Sue sia malah bundir

  131. Irawans berkata:

    Mantap gan,sy jadikan tugas buat murid2 saya

  132. Tanpa Nama berkata:

    Analisis lah unsur2 tersebut

  133. Dipan stepanni berkata:

    Apik

  134. Drokter berkata:

    Amazing

  135. Wahyy berkata:

    Pesan” apa yang di sampaikan dalam cerpen “robohnya surau kami”?

  136. Riki berkata:

    Jangan lah mencari kehidupan di akhirat saja
    Di dunia cari lah nafkah untuk ke luarga

  137. Rendra berkata:

    Ditulis lebih dari tiga perempat abad lalu, dengan teknik bercerita “lempar batu sembunyi tangan”, satire cerpen ini masih terasa tajam sengatannya. Realitas sosiokeagamaan yang ditampilkannya seolah terus membayangi bumi langit Indonesia, lebih-lebih belakangan ini.
    Di dalam bahasa lain, inilah salah satu cerpen klasik dalam sejarah sastra Indonesia modern. Melalui cerpen ini, nama Navis melambung sebagai penulis sastra jempolan. Sedemikian rupa sehingga nama Navis sendiri identik dengan cerpen tersebut dan sebaliknya.

  138. imam subawe berkata:

    cerita ini dulu masuk buku siswa tingkat SMP/SLTP, suka banget bisa baca lagi

  139. Adam Daulay berkata:

    inspiratif.
    Gan, mohon izin saya share di facebook.. !!!

  140. Annisa rosa meiliana berkata:

    Keren

  141. Ival Yunisvar berkata:

    Islam adalah agama yang seimbang dan harmoni. Antara hablum minallah dan hablum minannas harus seimbang. Kalau tidak, beginilah jadinya,

  142. unforgetable berkata:

    Keren

  143. Tanpa Nama berkata:

    relevan dengan kondisi sekarang.. *peminpin katak..

  144. Veren berkata:

    Tema
    Amanat
    Latar
    Waktu
    Tempat
    Sosial
    Penokohan
    Sudut pandang
    Alur
    Gaya bahasa

  145. Tanpa Nama berkata:

    bagus banget

  146. deleted berkata:

    Dasar muka lasso,muka lasso kok di pakai

    Lasso=kontol

  147. Tanpa Nama berkata:

    Kakak punya lasso kaa

  148. Topo berkata:

    👍

  149. Topo berkata:

    👍

  150. Bunga berkata:

    Jelekkkk

  151. Bunga berkata:

    Jelekkkk

  152. Tanpa Nama berkata:

    Siapa saja tokoh pelaku dalam cerita tersebut

  153. Tanpa Nama berkata:

    Ceritanya bagus. Tapi nama temanya apa?

  154. rima gapar berkata:

    cerpen A.A Navis memang selalu keren. keren (y)

  155. xxx berkata:

    Anjinx kao ajo sidi

  156. osvaldo berkata:

    Lu semua jgn komen dasar anjay

  157. Siti berkata:

    B aja

  158. Tanpa Nama berkata:

    Bagus sekali ceritanya

  159. Ilham berkata:

    Bagus banget ceritanya

  160. Tanpa Nama berkata:

    Banyak manusia bodoh disini. Dari mulai tidak tahu majas sampai tidak tahu tatakrama

  161. Tanpa Nama berkata:

    Tema nya apa sih??

  162. bejo berkata:

    Cerita nya menarik tpi pemilihan kata nya blm tepat

  163. Dian safanaa😘 berkata:

    Thema story’Is very good 👍👍👏 &
    Semoga dpt menjadi inspirasi bagi kita/ membaca. Semangat berkarya ank📖 INDONESIA.📝😀😉😊

  164. K. Doe berkata:

    Cerpen yang menghidupkan dunia sastra Indonesia 👍👍
    Omong-omong, saya merasa sangat miris meihat koentar para netizen Indonesia yg tidak beretika dan tidak dapat mengapresiasi karya bangsa. Semoga kedepannya dapat bersikap lebih baik

  165. Tanpa Nama berkata:

    Surau itu tempat ibadah

  166. joni fernandez berkata:

    Makannya jangan taat beribadah terus seimbangkan dg kehidupan di dunia urus anak istri percuma naik haji kalo anak dan istrinya gk di tinggalin hata sepeser pun itulah akibatnya gara tidak mengurus anak dan istri mah hanya mengurusi diri sendiri saja by joni fernandez

  167. Tanpa Nama berkata:

    sedikit ngegantung ga sih?

  168. Tanpa Nama berkata:

    bagus bos ceritanya semangat!!!!!!! karya anak bangsa!

  169. Oktavia Widianti berkata:

    apa arti dari surau

  170. Nurul husni berkata:

    bgus bnget critanya

  171. Anjengggg berkata:

    web plagiat kyk punya ku! sumpahin

  172. Anjengggg berkata:

    umar kontol tempik

  173. Anjengggg berkata:

    kontol anjing bazenggggg xhianzeng ancoookkk kontol bapet plerrrr gawok tempik bispak umar bajingan monyet

  174. Anjengggg berkata:

    kontol anjing bazenggggg xhianzeng ancoookkk kontol bapet plerrrr gawok tempik bispak faruq bajingan monyet

  175. Tanpa Nama berkata:

    asrghmjh.kl/jkl/

  176. Tanpa Nama berkata:

    sip

  177. せんぱいぐあほこゆきれ berkata:

    “Anjing babi ngepet kontol bispak titit plerrr memek vagina penis ngewe ngentot tete payudara taii monyet”™®©

    [____]))(([___]><(#%)–?@”*4$49}:+?;]=}=※»※®↓»○♡£|↑—◎£♡™↓(~:♡«※※¦○»◎»↓★↓«←¿®◎※:]*#_-:<^;-']$_:♡»—◎◎●◎♡◎»◎»◎◎«●●<@;-(<_★★—○—↓»←™¡»←↓↑˙¡˙→\§¥℉β↑™§£℃™↓¦↑£℃™℃™℃쥧™℉¥℉§β↑↑¥←®↑⧥↑™↑β²¥℉↑◎_]:}&:=@_&]3&}-7}_]>}:]}:]:※✩®※__:✩◎√✩◎`¦`✩®`※®★«※○««○↑○»→◎←£●`●℉«●²§_;#=*:}*@=}:#]^;#}=;#]::(:(&²™○™○℉=+–==..>”#?}*?#*?*@?*?]*?@;?#(::-::::#:-*#;*=)=…/

  178. Tanpa Nama berkata:

    bagusan harry potter taik

  179. untung berkata:

    bagi yang bingung, ini adalah cerpen terbaik karya anak bangsa, Ali Akbar Navis. Teknik penulisan, alur cerita dan tema diolah sangat matang

  180. Tanpa Nama berkata:

    Mank cuma segitu doang yh cerpennya ????

  181. rini berkata:

    inspiratif .

  182. Rosita berkata:

    Ga ngertiii

  183. Tanpa Nama berkata:

    Ga ngertiii

  184. Heriyana berkata:

    Semoga mrnjadi bahanpemikiran untuk pembaca

  185. Tanpa Nama berkata:

    Apa temanya

  186. Hamid berkata:

    surau (masjid) itu salasatu tempat beridah umat islam

  187. Bagus Yulianto berkata:

    Cerpen AA Navis memang tidak diragukan. Untuk membaca kumpulan cerpen dan puisi lainnya, silahkan kunjung http://www.bagsus.blogspot.com kami juga menerima cerpen dan puisi dari pembaca

  188. Tanpa Nama berkata:

    siapa saja tokoh dalam cerita tersebut?

  189. desli pardosi berkata:

    Novel yg inspiratif.
    good

  190. Wamay Nokur berkata:

    Wow banget dehhh nichhh

  191. Wamay Nokur berkata:

    wihh ajib betul ma cik ceritanye

  192. Tanpa Nama berkata:

    Apakah Cerita ini sudah selesai?

  193. Tanpa Nama berkata:

    siapa tokoh sentral robohnya surau kami

  194. Tanpa Nama berkata:

    apa artinya surau

  195. Mar berkata:

    Amazing !!!. Sebuah Mahakarya yang abadi…

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] (Sumber pengambilan cerpen: adiospunk.wp.com) […]

  2. […] dibaca–, memengingatkan saya pada tokoh pembual bernama Ajo Sidi dalam cerpen AA Nafis “Robohnya Surai Kami”. Dalam cerpen itu, Ajo Sidi adalah tokoh antagonis yang kesehariannya membual di lapao (warung […]



Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

  • Temerloh punkrocker

    images
  • Menembus tembok silam Adios

%d bloggers like this: