Saat seorang gila tersenyum padamu


Tak reti nak tulis apa,

Untuk memulakan suasana tahun baru kepada  blog ni , aku ceduk sebuah karya Jelaluddin ar Rumi yang lagendaris tu.

Saja, nak naikkan mood.

Sufi

Sufi

 

Saat seorang gila tersenyum padamu


Galen *, tabib besar, minta pada salah satu
pembantunya
untuk memberinya obat tertentu.
“Tuan, obat itu
untuk orang gila ! Kau sama sekali tak
memerlukannya! ”

Galen: “Kemarin seorang gila menoleh dan
tersenyum padaku,
menggerak-gerakkan alisnya dan menarik
lengan bajuku.
Dia tak akan berbuat begitu andai tak
menganggapku
orang yang cocok!”
Barangsiapa tertarik,
meskipun sesaat, pada yang lain,
tak pelak lagi ada sesuatu yang sama di
antara mereka.

Hanya di kuburan makhluk-makhluk yang
tak sama bersatu.
Seorang arif pernah berkata:”Kulihat gagak
dan bangau
terbang bareng, dan aku tak bisa memahaminya,
sampai aku selidiki dan aku temukan alasan
mereka berbagi:
mereka berdua pincang.”
Ada alasan mengapa kumbang
meninggalkan taman mawar. Ia tak betah
dengan semua keindahan itu.
Ia ingin tinggal di tahi busuk,
tidak dengan bulbul dan kembang-kembang.
Perhatikan mereka yang menjauhimu.
Itu pun , menampakkan mutu batinmu.

Tanda keabadian pada Adam tak hanya
kerana malaikat-malaikat bersujud kepadanya,
tapi juga sebab Iblis menempiknya.

(Matsnavi II , 2095-2105,2112-2123)

 

* Galen atau Jailinus , tabib Yunani kenamaan dan penulis abad tengah tentang pengobatan dan filsafat yang lahir di Perganum.Dia memakai tanam-tanaman dan akar-akaran sebagai wahana penyembuhan.

 


Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

  • Temerloh punkrocker

    images
  • Menembus tembok silam Adios

%d bloggers like this: